HUDUD: Satu Tinjauan Sejarah dan Kemahuan Demokratik Masyarakat Muslim Kelantan

“Unsur-unsur yang membentuk nasionalisme Melayu sama ada

rajanya, bangsanya, bahasanya atau pun agamanya 

umpama bara yang tak pernah padam. Ia mungkin malap

buat seketika tetapi bisa menyala semula jika dikipas-kipas.

Islam adalah sebahagian daripada aspirasi 

nasionalisme Melayu jalur Islamis yang terpendam 

tetapi tak pernah padam. Perlahan-lahan ia menjalar, 

mengakar dan mencengkam sehingga tak bisa lagi dibungkam”

(Tuju Malbaru ketika sedang bersuluk)

 

Apakah perlaksanaan hudud itu bisa adil di dalam masyarakat yang majmuk dan rencam seperti Malaysia ini? Bagaimana pula dengan kemahuan masyarakat Muslim itu sendiri yang menuntut perlaksanaan hudud? Apakah kemahuan mereka adil untuk ditolak atas nama ketidaksesuaian hudud di dalam mencapai keadilan sosial di dalam masyarakat majmuk? Atau diterima atas nama Tuhan yang diinterpretasikan oleh mereka yang punya klaim autoriti agama sebagai suatu kewajipan untuk setiap Muslim menerima hudud?

Ini adalah antara perkara yang berlegar-legar di dalam fikiran saya selepas usai diskusi anjuran MIG (Malaysian Interest Group, Australian National University) tentang “Islam in Malaysia” yang dibicarakan oleh Dr. Harith Roslizar, Presiden IKRAM Australia. Di dalam masa yang agak singkat (kurang lebih 2 jam sesi diskusi tersebut) Dr. Harith sebagai nara sumbernya telah menyampaikan topik diskusi yang besar dan rumit itu dengan cukup baik sekali. Pembicaraan Dr. Harith ini kemudiannya diikuti dengan sesi soal-jawab dan diskusi terbuka.

Kesinambungan daripada diskusi bersama Dr. Harith ini dan juga soalan-soalan kritis daripada salah seorang anggota aktif MIG, saudara Sum Dek Joe, telah mencetuskan pertanyaan, persoalan dan bahasan fikiran di dalam diri saya. Jadi saya fikir elok juga untuk saya menuangkan buah fikiran saya di dalam tulisan ini khususnya dari sisi sejarah dan wacana kemahuan demokratik masyarakat untuk sama-sama kita fikir dan bahaskan.

Continue reading

Advertisements

Pilihan Jalanraya Pembina Memori Bersama

auntie bersih

Sebahagian daripada pendidikan politik saya adalah di jalanraya. Sebahagian lagi adalah melalui pembacaan dan kuliah serta diskusi kedai kopi yang sering saya ikuti. Saya adalah antara generasi muda yang terlibat di dalam siri-siri demonstrasi dan protes jalanraya pada tahun 1998.

Tahun 1998 merupakan tahun penting di dalam sejarah gerakan sosial di Malaysia di mana benih-benih perlawanan yang diperolehi dari kesinambungan sejarah silam mula ditanam.

Sebahagian daripada hasilnya sudah dapat kita tuai pada hari ini. Sedikit demi sedikit ruang demokrasi dan kebebasan mula terbuka. Semakin hari semakin ramai orang menjadi berani. Takut pula sedikit sebanyak sudah berjaya ditundukkan.

Sebahagian besar daripada penglibatan saya di jalanraya pada ketika itu hanyalah sebagai peserta sahaja. Namun terdapat juga sebilangan kecil daripada protes dan demonstrasi jalanraya yang berbentuk kecil-kecilan di sekitar tahun 1998 – 2003 di kota Kuala Lumpur ini yang saya bersama beberapa orang kawan anjurkan, gerakkan dan laksanakan.

Bila mengingat kembali penglibatan saya di dalam protes dan demonstrasi jalanraya ini saya sering jadi nostalgia dan sentimental. Suatu memori yang tersulam kejap ke dalam ingatan.

Continue reading

Hidup Mati Barisan Nasional atau Bangsa?

Apa yang dilakukan oleh manusia untuk hidup? Seperti biasa yang ditemukan tentulah makan dan minum. Tapi soalan itu menanyakan dan memerlukan sesuatu yang lebih mendasar – manusia akan berbuat apa-apa sahaja demi memastikan kelangsungan hidupnya (survival). Apa-apa sahaja. Perkara inilah yang ditunjukkan oleh parti Barisan Nasional – sejak Tun Dr. Mahathir lagi – mencantas lawannya sebelum mereka ini dapat menggugat di peti undi dalam Pilihan raya umum yang bakal menjengah tidak lama lagi. Dan mereka ini pastinya bukan penganut Darwinisme kerana bagi mereka sosialis dan komunis itu kafir.

Melanjutkan keinginan untuk hidup atau keinginan berkuasa, di bawah pemerintahan DS Najib – yang satu waktu dulu memenangkan kubu Tun Dr Mahathir dengan berpaling dari kubu Tengku Razaleigh – BN menggunakan aparatus kerajaan, mengadu domba rakyatnya dan mengenakan fitnah pada parti yang melawannya. Politik ini ialah cara berpolitik yang diwarisi zaman kesultanan Melayu Melaka – Hang Tuah pernah difitnah bermukah dan Hang Nadim dibunuh kerana cemburu. Dan ia berlanjutan sehingga zaman ‘moden’ ini dengan fitnah yang melibatkan antaranya Burhanuddin Helmy-Ibu Zain Continue reading

88 Tahun Pramoedya: Panjang Umur Perjuangan!

Image

kretek

Membaca Pram atau Pramoedya Ananta [Mas]toer, kita tahu tentang nilai kemanusiaan ketika berhadapan kekuasaan dan tentang penindasan oleh orang-orang yang hidup senang atas penderitaan orang lain — jika tahu itu semua, maka tahu pulalah kita di mana harus berdiri dan ke mana harus berpihak — inilah kata-kata yang disebut antara penerbit karya Pram.

Sasterawan Indonesia yang lahir pada tarikh ini, 88 tahun yang lepas sudah menghabiskan separuh hidupnya dalam penjara. Sebagai tahanan, itu tidak menahannya daripada terus menulis sehingga menghasilkan lebih 50 karya dan diterjemah ke dalam lebih 42 bahasa asing. Tercalon sebagai penerima Nobel Sastera, sosok ini menulis Continue reading

Apathy and Totalitarianism: Hannah Arendt’s Philosophy of Public Space

Cato Wong

Many people held the belief that totalitarianism is the consequence of the penetration of public power into private life. The fear of the “tyranny of the majority” led the contemporary thinkers after the Second World War to conclude that “positive freedom”, i.e., the freedom to do something, is inherently dangerous in contrast to the “negative freedom,” the freedom from something. None of the writers and thinkers from the “libertarian” side (Friedrich Hayek, Ayn Rand etc.) or the “liberal” side (Isaiah Berlin, Karl Popper etc.) saw any worth in politics itself, both strands of thinking try to de-emphasize politics and replaced it with the pursuit of lifestyles preferred by individuals. By making everyone minding their own business only, it can be expected that no one would organize anything for public causes and therefore left no chances for government to act on behalf of people’s demand, thus the government power – the source of totalitarianism is withering away. Hannah Arendt (1906-1975) stood out among the political thinkers of the postwar era for her defense of the political life. Far from denouncing politics as the cause of totalitarian rule, Arendt argues it was not the penetration of public power into private life that made totalitarian rule possible, but the loss of public space and the banishment of citizens from public world into private life is what responsible for the phenomenon we called totalitarianism.

Arendt was born in Germany and studied philosophy under Martin Heidegger. As an eyewitness of the Nazi movement of her country and a Jew whose identity made her fled Germany, Arendt rightly diagnosed the totalitarianism as the movement that organized not classes, not parties but “masses” (OT: 308), which could be defined as “people who either because of sheer numbers, or indifference, or a combination of both” (OT: 311), they are the men who struggle to maintain life’s necessities, they can be the day laborers (who are more affected by the Stalinist totalitarians) or the lower middle classes (who are more drawn to the Fascist totalitarians). Totalitarianism demands “total, unrestricted, unconditional, and unalterable” loyalty which can only be achieved by the elimination of dissent voices and the abolition of all natural and social bonds between human beings. “The mass man whom Himmler organized for the great mass crimes ever committed in history,” Arendt said, was the man who “worries nothing so much as his private security, was ready to sacrifice everything – belief, honor, dignity – on the slightest provocation” (OT: 338). Continue reading

Antara Kita dan Mereka

Satu bangsa itu tak akan sempurna majunya andaikata kesenian dan kebudayaannya masih jauh tertinggal di belakang- Usman Awang

“moral judgement & moral theory certainly apply to public question, but they are notably ineffective. When powerful interests are involved it is very difficult to change anything by arguments, however cogent, which appeal to decency, humanity, compassion & fairness. These considerations also have to compete with the more primitive moral sentiments of honor & retribution & respect for strength. The conditions under which moral argument can have an influence are rather special, and not very well understood by me. They need to be investigated thru the history & psychology of morals, importants BUT underdeveloped subjects much neglected by philosophers since Nietzsche. It certainly is not enough that the injustice of a practice of the wrongness policy should be made glaringly evident. People have to be ready to listen, and that is not determined by argument”

Kenyataan ini disepakati Spivak, sebagai seorang filsuf dekonstruksi dan sekaligus dianggap pascakolonialis. Ia juga cukup untuk menggambarkan kebingungan yang dihadapi rata-rata masyarakat Malaysia. Baru-baru ini, isu yang menyakiti perasaan dan menghantui pikiran ialah isu homoseksualiti – LGBTX. Hal yang diangkat oleh kelas menengah atas nama membela ‘yang-lain’. ‘Yang-lain’ dalam erti kata yang tertindas atau sengaja ditindas. Continue reading

Gerakan Politik Kiri di Hulu Langat, 1946-1948

Oleh Dr. Mohamed Salleh Lamry


Mengikut versi sejarah arus perdana atau versi sejarah “rasmi”, perjuangan untuk mencapai kemerdekaan di Malaysia biasanya dikatakan bermula dengan penubuhan UMNO dan penentangan terhadap gagasan Malayan Union pada tahun 1946.  Setelah berjaya menghapuskan Malayan Union, UMNO bersama-sama dengan MCA dan MIC  mengadakan perundingan dengan kerajaan Bristish untuk mendapatkan kemerdekaan, dan kemerdekaan diserahkan kepada UMNO dan rakan-rakannya dalam keadaan aman damai pada tahun 1957.  Tersirat dalam versi sejarah arus perdana ini seolah-olah UMNO-lah yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Continue reading