Opera

Oleh Jack Frost

Di mana sekalipun, manusia tentu saja terbelenggu dan dibelenggu. Bahkan, belenggu-belenggu yang menghambat manusia ini merupakan suatu hal yang tidak terelakkan baik dari sudut yang dampak atau yang tersembunyi. Mungkin sekali benar, mati yang seringkali dimomokkan sebagai sebuah kesunyian yang dahsyat itu sebenarnya merupakan jalan akhir bagi manusia untuk bebas daripada kehidupan – yang dipenuhi dengan tuntutan-tuntutan serta kepatuhan – yang sama sekali membebankan.

Menurut Shariati, penjara paling besar bagi manusia itu terbahagi kepada empat; alam, sejarah, masyarakat dan diri. Manakala untuk mengatasi setiap satu daripadanya, manusia itu sendiri harus menyedari hakikat keberadaannya dalam penjara-penjara tersebut. Justeru, dengan menanggapi jalur hakikat tersebut, manusia lantas mampu menemukan ilham serta jalan untuk keluar daripadanya sekaligus mengubah serta menentukan sendiri perjalanan hidupnya.

Namun, empat penjara yang disebut oleh Shariati secara langsung telah diakui dan diletakkan di bawah telapak seorang Penguasa yang menentukan segalanya. Jalan hidup manusia, perkembangan masyarakat, pertumbuhan peradaban dan segala sesuatu tidak akan pernah terlepas daripada genggaman kemas Tuhan yang mengatur. Sekalian hal ini jika diperihalkan dalam bentuk keagamaan, lebih dikenali sebagai takdir.

Pun begitu, persoalan takdir juga merupakan sebuah hal lapuk yang tak kunjung selesai. Apakah jalan takdir seorang manusia itu bentuknya seperti sebatang jalan yang lurus dan harus diikuti hingga ke hujung tanpa ada sebarang peluang dan pilihan atau ia merupakan sebatang jalan yang penuh cabang serta penuh dengan pilihan-pilihan yang berhak diputuskan oleh manusia itu sendiri? Walau apa pun ia, pada akhirnya akan berbalik kepada sebuah keterikatan kepada suatu entiti agung yang dinamakan Tuhan.

Di sini, Tuhan mungkin saja telah bersikap sangat sinis dengan manusia. Empat penjara tersebut secara langsungnya akan bersangkut dengan dua hal yang sangat intim dengan manusia iaitu; bahasa dan perlakuan. Dalam hal ini, Tuhan seolah cuba bermain dengan manusia. Pengetahuan tentu saja memerlukan bahasa yang bertindak sebagai wahana untuk dikomunikasikan. Lalu, melalui komunikasi-komunikasi yang terjalin ini akan membentuk satu set perlakuan yang berlandaskan kepada penyampaian tersebut.

Bahkan, dalam naluri manusia yang terdalam (mungkin saja hati) juga memerlukan bahasa dalam melampiaskan kegelisahan dan keterujaan manusia.  Misalnya doa. Baik secara lantang, berbisik mahupun bermonolog sendirian sekalipun, manusia masih lagi terikat dengan bahasa untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan sudah tentu, bahasa merupakan hal yang sama sekali tidak lengkap serta compang-camping bentuknya. Malah, perlakuan-perlakuan ‘ideal’ yang menjadi ikutan juga adalah pada mulanya berasal daripada bentuk komunikasi yang tidak dapat disentuh seperti wahyu yang disampaikan secara lisan.

Bahasa terbit dan lahir daripada keinginan-keinginan untuk memaknakan, memberi erti kepada suatu objek, hal atau peristiwa yang dapat dicerap oleh indera atau mungkin saja absurd. Goenawan ada menyebut bahawa bahasa, merupakan alat untuk memerihalkan Tuhan secara verbal yang tidak dapat tidak, terikat dengan realiti serta terhad, dalam usaha manusia untuk menyambut hal yang tidak dapat dimaknai. Lalu sikap sinis Tuhan jelas terlihat dalam hal ini. Manusia berdoa untuk memohon kebebasan serta pada masa yang sama, mereka terikat dengan bahasa untuk meluahkan doa tersebut. Manusia lantang melaungkan kata pembebasan walhal dalam ketika yang sama, mereka turut akur dengan kekangan bahasa. Manusia menyanyi untuk meluahkan rasa, namun dalam nyanyian itu terkandung bahasa.

Dan kita berfikir, dengan menggunakan bahasa untuk menanggapi bahasa itu sendiri; apakah bahasa merupakan pohon yang berakar dan tumbuh daripada keinginan alami manusia untuk berinteraksi atau hanya sekadar kurnia dari langit yang diturunkan kepada manusia untuk menjadi bahan tawa yang diatas? Atau mungkin saja, tulisan ini, yang menggunakan bahasa untuk dikomunikasikan tidak lebih sekadar teks yang sarat dengan perkataan-perkataan yang telah mati?

 

One Response

  1. Apa beda antara Mas Goen dengan Mas Boen? Sila jawab, jgn gugel!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: