Let’s undo the idea!

Oleh Aishah

“Interpreter: Who’s there?
Book: Nay, answer me; stand, and unfold yourself.”
– Geoffrey Hartman

‘Menulis’ tentang Derrida, tentu saja kita tak dapat lepas daripada membicarakan “what is…..literature” dan “who decides”. Kedua-dua persoalan ini menyentuh sejumlah perbahasan menarik dan melahirkan gagasan seperti ‘undecidability’, ‘arche-writing’, ‘differance’, ‘other/ness’, ‘binary opposites’, ‘re-mark’ selain ‘deconstruction’.

Bagi persoalan pertama, Derrida menyatakan sastra* sering dibaca dalam bentuk dominasi. Dominasi seperti ini nyata dalam hubungan perlawanan binar yg telah diturunkan dlm falsafah sejak Plato, Aristotle. Dominasi yg menyisihkan kutub kedua atau ‘yang-lain’. Dominasi yg mempunyai risiko dgn bertindak sebagai limitasi dalam teks. Sementara menidakkannya, pengkritiknya mudah jatuh pada kesimpulan bahwa perlawanan binar selamanya berdosa.

Satu pihak harus paham, perlawanan binar tidak diizinkan ketika membaca kon/teks kerana kecenderungan melupakan vis a vis menindas pihak ‘yang-lain’. Dan Derrida ingin memberi keadilan pada ‘yang-lain’ ini dengan menawarkan cara baca yang lain. Pada masa sama, tidak adil juga jika perlawanan binar ini terus dihukum, bilamana ia tidak memudaratkan mana-mana pihak. Paul de Man, Christopher Norris, Attridge, masing-masing bersetuju dengan Derrida–membaca dengan rasa tanggungjawab dan hormat terhadap “otherness’ yg berbentuk personal, sejarah, budaya bukan membaca untuk memenuhi hasrat (kepentingan) diri.

Kemudian, akan ada yg bertanya, sesudah ‘deconstruction’ apa? Deconstruction ‘ialah’ salah satu (bukan satu-satunya, eloklah jika tidak deterministik) seni baca tertentu**. Ia menunjukkan hubungan kuasa yg tidak tegar dan boleh berubah–alternatif atau senjata baru bagi pascakolonialis seperti Edward Said dan Gayatri Spivak. Niat ini juga dikesan dalam teks klasik Syed Hussein Alatas, Mitos Peribumi Malas, terma ‘watak tertawan’ dlm Intelektual Masyarakat Membangun dan Perbendaharaan Lama, HAMKA.
Semua ini menuju ke tujuan akhir dan sejak awal iaitu keadaan mental manusia/ psyche, bukan teks. Teks hanya sebagai medium atau dalam bahasa Derrida, penanda, tidak mengandung makna [sebaliknya diberikan makna]. Jadi, kurang tepatlah bagi yang mengira perhatian Derrida hanya dalam teks; “I never cease to be surprised by critics who see my work as a declaration that there is nothing beyond language, that we are imprisoned in language; it is, infact saying the exact opposite. The critique of logocentrism is above all else the search for the ‘other’ and the ‘other of language’.”

Malah, bagi membuktikan ini, Derrida menjawab tuduhan drp orang terkemudian yg mengatakannya sebagai pascamodenis. Lanjutnya, konteks bersifat ‘undecidablity’ kerana teks bersifat ‘iterability’ (tidak akan mungkin murni atau menjadi dirinya sendiri). ‘Undecidability’ terjadi bila teks mempunyai konteks yg tidak-terhingga. Ketakterhinggaan terhasil drp tafsir-ulang oleh individu dgn macam-macam pengalaman. Justru, satu-satu teks bukanlah tidak dapat ditentukan maknanya Tapi mempunyai terlalu banyak makna berpotensi. Oleh itu, teks mampu mendapatkan maknanya dengan konteks sejarah yg paling hampir dan relevan dengan teks itu sendiri, “particular response with very specific historical determinants that Derrida would be the last to undervalue.” Dan perenggan terakhir ini t’lahpun menjelaskan persoalan kedua.

*sastra merujuk kpd prinsip ‘kebebasan pengarang menulis apa-apa saja’. Dan..[seharusnya] berupaya utk kekal terlindung drp penapisan secara politik atau agama.
**Pembacaan yg literal akan meneruskan dominasi ujaran ke atas tulisan dlm falsafah terdahulu. Derrida kemudian mengenalkan ‘arche-writing’ dan ‘re-mark’ bagi mengatasinya

One Response

  1. apa maksud membaca dengan rasa tanggungjawab dan hormat terhadap “otherness’ yg berbentuk personal, sejarah, budaya bukan membaca untuk memenuhi hasrat (kepentingan) diri.?

    adakah maksud “watak tertawan” seiring dgn maksud bandwagon?

    adakah terminologi “watak tertawan” serupa dengan “spectacle” dari Guy Debord(the situationist)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: