Tangisan Diwali

Dipresi di pagi diwali, obsesi akan revolusi,
menanti suatu hakiki, lebih terang dari mentari,

Soal hakim bicara hati, itu langsung tak bestari,
menanti suatu justifikasi, mengapa perlu berdiri?,

Hati muda mula tangisi, beda-beda sang bumi,
aku ditampar diskriminasi, bagai dianak tiri,

Yang pergi tak ingin kembali, yang bumi hendak beratu rani,
yang aku di sini , terus menjunjung duli,

Sosial liberal dan kroni, entah bila boleh berani,
yang betul itu hakiki, yang lain itu menipu diri,

Cis podah si benggali, airmata mu membuta tuli,
yang bumi kan terus membuli, engkau bukan anak pertiwi,

Diwali diwali terus mencari, entah bila sinar kan kembali,
membawa erti seribu sakthi, memberi aku martabat diri,

Bangkit aku berdiri, mengenang saudara hati,
merindu masa lampau kembali, mengingat masa depan menanti,

Salam cahaya dari hati, salam menanti kepulangan nanti,
salam dari ibu pertiwi, salam ini jangan dikhianati,

Kembalilah beraja disini, ratu maharani tidak bererti,
masyarakat madani menanti kuli, untuk membina dasar insani,

Kembalilah kuli , pertiwi mu menanti,
dengan bangga diri, selamat hari diwali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: