“Di pelantaran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah laku ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. orang-orang memanggilnya Kakek”, begitulah perkenalan awal A.A Navis terhadap watak utama, Haji Saleh dalam cerpen geniusnya ‘Robohnya Surau Kami’. Orang tua ini digambarkan sebagai pemuja tuhan nombor wahid yang cuba memisahkan langsung hidupnya dengan kenikmatan dunia. Ironinya, orang tua ini merenggut nyawanya sendiri dengan menujam pisau cukur ke tengkoroknya akibat bisikan seekor syaitan sekaligus malaikat bernama Ijo Sidi. Dengan apa Ijo Sidi berbisik? Ijo Sidi berbisik melalui imaginatif rasionalnya terhadap kata ‘baik’ yang selama ini dipegang dan dikerjakan Haji Saleh. Ijo Sidi adalah dalang yang menafikan ‘kebaikan’ dapat dikecap di tangga surau. Ijo Sidi jugalah yang menafikan ‘pahala’ dapat dibodek di atas mimbar. Kalimat imaginatif Sang Syaitan ini akhirnya mendarat di telinga Si Pendamba Syurga lalu dirogol-rogol kepercayaan kepada Tuhan itu menjadi satu kejelekan. Akhirnya, Ijo Sidi menjadi dua, syaitan sebagai dalang kematian Lebai Saleh, juga malaikat yang menghidupkan Lebai Saleh dari kematian beragama.
Mainan nilai yang dilakukan oleh A.A Navis melalui watak Haji Saleh dan Ijo Sidi cukup memikat, apatah lagi dalam ruang masyarakat beragama di sebelah sini. Namun, hal yang paling memikat ialah kata ‘baik’ yang menjadi bergulatan dasar dalam cerita pendek ini. Apakah ‘baik’ itu adalah hal yang perlu dilepaskan ke langit untuk tuhan? Apakah hal ‘baik’ ini mesti bersifat praktis dalam ruang masyarakat? Apakah ‘baik’ itu punya ketetapan-ketetapannya? dan segala macam persoalan yang cuba menerobos apa itu ‘baik’. (more…)
Filed under: Artikel, Etika, Sastera, Seni | Leave a Comment »







